Melihat Wisata Religi Makam Syekh Kramat Jati di Semarang

Home / Wisata / Melihat Wisata Religi Makam Syekh Kramat Jati di Semarang
Melihat Wisata Religi Makam Syekh Kramat Jati di Semarang Makam Waliyullah di Semarang, Al-Habib Hasan Bin Yahya atau dikenal Syekh Kramat Jati di Semarang, Minggu (5/4/2020). (FOTO: Istimewa)

TIMESGRESIK, SEMARANGSemarang memang dikenal sebagai salah satu kota dengan warisan peninggalan sejarah, mulai dari bangunan Kota Lama hingga Lawang Sewu yang kerap menjadi ikon. Namun, tak hanya itu daya tarik Kota Semarang, karena ternyata terdapat beberapa lokasi wisata religi berupa makam yang juga banyak dikunjungi para peziarah. 

Beberapa makam tersebut diantaranya adalah makam Ki Ageng Pandanaran yang dikenal sebagai pendiri Kota Semarang dan terletak di Jalan Mugas, Randusari, Semarang Selatan. Terdapat pula makam Kiai Sholeh Darat di Borgota, Semarang, yang dikenal sebagai guru dari pendiri Nahdlatul Ulama (KH Hasyim As’ary) dan sekaligus guru dari pelopor Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan). 

Selain dua makam tersebut, beberapa tahun belakangan ini terdapat satu lagi makam yang menjadi tujuan favorit para peziarah, yakni makam Syekh Kramat Jati atau Habib Al-Hasan bin Yahya yang juga dikenal sebagai salah satu waliyullah. Makam ini berlokasi di Lemper Kidul, Semarang Selatan. 

Assayid Al Habib Hassan bin Thoha bin Yahya juga dikenal dengan sebutan Mbah Singo Barong karena keberanian, kegagahan, dan kegigihannya saat berperang melawan penjajah. Syekh Keramat Jati bertempur melawan penjajah diantaranya mulai dari Banten hingga Semarang, dan berhasil mendesak mundur penjajah di Pekalongan dalam pertempuran tahun 1785. 

Menurut penuturan Wahyu Mintarja (40) yang sehari-hari membersihkan makam dan sekaligus anggota pengurus makam, makam Syekh Keramat Jati setiap hari selalu ramai dikunjungi para peziarah, terutama pada selasa malam dan malam jumat.

“Bahkan, setiap tahun saat peringatan haul, ratusan sampai ribuan orang menghadiri. Terlebih, sejak tiga tahun belakangan Pemerintah Kota ikut hadir dan membantu peringatan haul. Haul juga dihadiri oleh ulama tanah air seperti Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Sementara untuk tiap minggunya selalu ada khataman hingga barzanji,” ungkap Wahyu saat ditemui di kediamannya (4/4/2020) yang terletak persis di depan atau sebelah barat makam Syekh Habib Hasan.

Sementara seorang peziarah bernama Sri Winarsih (58) yang berasal dari Semarang, mengungkapkan jika dirinya tiap minggu rutin berziarah di makam tersebut. Menurutnya pula, dengan berziarah di makam tersebut dirinya bisa merasakan ketenangan. 

“Saya memang rutin ziarah di sini mas. Saya juga meyakini jika setiap wali memiliki karomah, tak terkecuali Syekh Keramat Jati. Salah satu karomah beliau yang saya tahu adalah diberi akhlak yang mulia dan ahli dalam menghentikan segala perpecahan dan fitnah antar golongan maupun suku sehingga bisa menggagalkan aksi adu domba yang dilakukan penjajah," ujarnya 

"Jadi mungkin itu alasan mengapa saya merasa tenang saat berziarah ke sini. Tiap ada masalah yang terkait dengan keluarga maupun pekerjaan saya pasti langsung berziarah ke sini,” tuturnya saat sambil duduk di serambi makam setelah usai berziarah.

Sebagaimana dilansir Al-Mihrab, Habib Hasan bin Thoha bin Yahya lahir di kota Inat (Hadramaut), dari pasangan Habib Thoha bin Yahya dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah Al-Idrus. Beliau mendapat pendidikan langsung dari kedua orangtuanya sampai hafal Alquran sebelum usia tujuh tahun.

Setelah menginjak dewasa, Habib Hasan belajar ilmu syariat, tasawuf, dan menghafal kitab kepada para ulama. Di antara guru beliau adalah Habib Umar bin Smith dan Quthbil Ghouts Al Habib Alwi bin Abdullah Bafaqih. Habib Hasan juga menimba ilmu ke Afrika di Tonja, Maroko dan sekitarnya, kemudian ke daerah Habsyah, Somalia hingga ke India dan Penang.

Sementara menurut penuturan dari pengelola makam Syekh Keramat Jati, Ahmad Solikin (43) mengatakan jika dari cerita-cerita yang dia ketahui, Habib Hasan yang semula di Penang akhirnya meneruskan dakwahnya ke Indonesia. Habib Hasan pertama kali masuk ke Palembang dan kemudian ke Banten. Di Banten beliau diangkat Sultan Banten menjadi Mufti Besar. Dia tak hanya mengajar dan berdakwah, melainkan juga berjuang mengusir penjajah Belanda. 

“Habib Hasan tak berhenti di Cirebon. Beliau melanjutkan dakwah ke Pekalongan dan mendirikan pesantren serta masjid di desa Keputran dan tinggal di Desa Ngledok. Pondok pesantren tersebut terletak di pinggir sungai,” tambahnya.

Oleh karena itulah, maka tak heran pengaruh Habib Hasan begitu besar dan diakui banyak orang. Bahkan namanya semakin banyak dikenal tatkala pada tahun 1785 M menjadi tokoh penting saat terjadi sebuah pertempuran sengit di Pekalongan melawan penjajah yang membuat Belanda kewalahan.

Ahmad Solikin juga mengatakan jika setelah terjadi peperangan tersebut, Habib Hasan selalu menjadi incaran penjajah dan kemudian bersama santrinya memutuskan untuk mengungsi ke Kaliwungu, Kendal. Atas perjuangan, kearifan, serta keluasan ilmu Habib Hasan, Sultan Hamengkubuwono ke II kagum dan menjadikannya menantu. 

Habib Hasan kemudian menghabiskan masa tua hingga wafatnya di Semarang, tepatnya di daerah Perdikan atau Jomblang yang merupakan pemberian dari Sultan HB II dan dimakamkan di depan pengimaman Masjid Al Hidayah Taman Duku Lamper Kidul, Semarang Selatan. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com